Yasar lagi duduk diberanda rumahnya sambil membaca buku ayat-ayat cinta yang baru dipinjamnya di Taman Bacaan Guahira. Dia larut dalam setiap kata-kata bertuliskan di dalam buku-buku tersebut, dan seakan-akan dialah yang menjadi sosok peran utama dalam buku best seller itu.
Dia tergolong seorang predator buku, hampir setiap hari dia melahap setiap buku-buku baru yang terpajang di Taman Bacaan Guahira, ditengah larutnya Yasar, tiba-tiba Ryan datang menghampirinya dan duduk disamping Yasar.
“Sar, gue sial banget hari ini!” Ryan menggeleng-geleng kepala sambil menatap kearah langit
Yasar lagi asyik membaca tidak menanggapi perkataan Ryan
“Sar loe denger gak sih apa yang gue omongin” Ryan kesal
“Iya, gue denger” yasar menyahut sambil terus memerhatikan kata demi kata dalam bukunya.
“Sar stopin dulu bacanya, gimana sih sahabat loe lagi menderita eh loe asyik-asyikan baca buku” Ryan mengarah ke wajah Yasar dengan itonasi marah
Yasar lalu berhenti membaca buku dan beradu tatap dengan wajah Ryan
“Ya udah, coba loe ceritain ama gue apa kejadian yang menimpa loe hari ini” Yasar menutup bukunya dan menaruh disamping kanannya.
“Nah gitu dong” Sahut Ryan
Ryan lalu menceritakan dirinya dari pagi dia tak makan dan perutnya terus memberontak meminta makanan, Ryan tak tahan melihat buah rambutan Pak Sabri yang berbuah diluar pagar dan tingginya dua meter dari tanah, ia nekat mengambil untuk mengisi perutnya yang keroncongan, alhasil dia ketahuan sama empunya buah rambutan dan menyudahi dirinya dengan cacian sumpah serapah, karena tak mau terus dicaci Ryan mengambil langkah seribu.
“Oh, jadi kamu nyuri lagi” sesal Yasar sesudah mendengar cerita Ryan
“habis gue lapar sekali” Ryan menimpali
“Yan udah berapa kali gue bilang sama loe, biarpun kita miskin, yang penting kita merdeka, gak usah makek nyuri segala, kalau lo lapar, bilang sama gue, kita cari makan sama-sama, yang penting halal walau cuma sebutir nasi” jelas Yasar lebar panjang
“Ya.. Sar gue insaf”
“Lain kali, kalo gue dengar loe nyuri lagi, loe gak usah dekat-dekat sama gue, gue nyesal temenan sama loe” Yasar hampir naik pitam
Keadaan hening
“Maafin gue Sar, Gue janji, gak akan mencuri lagi” ryan angkat suara
Yasar tidak menanggapi
“Ya udah, mau maghrib nie, ayo kita mandi dulu” Kedua-duanya bangkit dan masuk kedalam rumah.
***
Semenjak Ayah Yasar meninggal, Ibunya jatuh sakit dan akhirnya menyusul ayahnya pulang kerahmatullah, orang tuanya tergolong orang miskin, mereka hanya meninggalkan sebuah rumah reot yang kini ditempati oleh Yasar dan Ryan, Rumah dengan dinding kayu, beralaskan tanah yang hanya diterangi oleh cahaya lilin diwaktu malam, tapi bagi Yasar bagaikan sebuah istana megah yang bersinar waktu dilihat dari langit.
“Yan makan dulu” Yasar menyodorkan tempe kearah Ryan yang lagi rebahan
“Dapat dari mana nie”
“Rini yang kasih sebelum loe pulang”
“Rini anaknya Ibu Salimah tetangga sebelah” Ryan bangun dari rebahannya
“Ia”
“Cuma mereka tetangga yang peduli sama nasib kita” Ryan memasukkan tempe kedalam mulutnya.
“seharusnya kita bersyukur, udah kenal tetangga sebaik mereka” Yasar merentangkan tubuhnya dilantai beralaskan tikar
“Benar loe Sar” jawab Ryan mantap
Yasar bertemu Ryan ketika Ryan melakukan aksinya sebagai pencuri, waktu itu, di tempat sepi Ryan menjambret tas seorang wanita, wanita itu berteriak histeris meminta pertolongan, Ryan tak dapat mengelak ketika berlari. Dia dihadang oleh dua pemuda yang siap menangkapnya, dalam sekejap dia sudah berada ditangan dua pemuda tersebut, dan menghadiahi Ryan dengan pukulan-pukulan yang bertubi-tubi di wajah dan perutnya, “ampun bang” Ryan mencoba dikasihani, tak pelak, dia terus dihujani dengan bogem-bogem mentah oleh dua pemuda tersebut. Lalu Yasar datang dan mencoba menegoisasi dengan dua pemuda tersebut, pemuda tersebut akhirnya luluh dan mencampakkan Ryan yang tersungkur ditanah. Yasar lalu membawa Ryan kerumahnya.
***
“Sar, Yasar gue ada berita gembira nie” Ryan berlari sambil membawa koran
“ada apaan” Yasar mencoba berdiri
“Nie, loe baca dulu nanti baru nanya” Ryan menyodorkan koran kearah Yasar
Yasar terkejut ketika melihat kata-kata bertuliskan LOMBA MENULIS CERPEN dengan total hadiah lima juta rupiah, jantungnya berdegup kencang seakan memecah kesunyian dirumahnya, dan dirinyapun lemah sewaktu melihat tanggal penerimaan naskah terakhir.
“Yan hari ini hari apa” Yasar bertanya dengan hati gelisah
“Hari rabu Sar, ada apa emangnya”
“loe gak liat tanggal penerimaan naskah cerpen terakhir”
“nggak, coba gue liat” Ryan menarik koran di tangan Yasar
“hari minggu, berarti tinggal lima hari lagi dong” Ryan menatap Yasar
“kalo sebulan gue bisa nyelesaian satu buah cerpen, tapi kalo lima hari” wajah Yasar berkerut.
Mereka diam sejenak dan duduk menatap biru langit dipagi hari, Ryan membaca sekali lagi koran yang ditangannya, berharap koran memberikan waktu yang lebih panjang, sampai butapun dia menatap koran, waktu juga tidak akan berubah.
Ryan menatap wajah Yasar dengan Senyuman
“Kenapa loe senyum-senyum”
“gue yakin Sar loe pasti bisa, loe belum mencobanya makanya loe ambil kesimpulan kagak bisa, cuma nulis apanya yang susah, gue yakin loe bisa, karena loe suka membaca” Ryan memberi semangat lebar panjang
“bener juga loe Yan” wajah Yasar kembali ceria, menyibak rambutnya ala Ariel peterpan
***
Lima hari sudah, yasar memutar pikiran dan mencari ide didalam rumahnya yang sedikit gelap, cahaya matahari tidak sepenuhnya memberikan penerang kerumah Yasar, walau bagaimanapun ia tidak pernah putus ide, karena ada sang Ryan yang membakar bara api semangat sang calon penulis. Waktu terus berputar tanpa memikirkan apa yang dilakukan dua bersahabat dalam rumah tanpa cahaya yang terang. Hingga akhirnya hari pengumuman yang didambakanpun datang,
“Gue yakin sar nama loe pasti keluar” Ryan berkata sambil mengunci rumahnya
“Ayo cepat udah gak sabaran nie”
Mereka melangkahkan kaki menuju Kios Bang Dahran, tempat biasa mereka mudah mendapatkan koran untuk dibaca, Hati Yasar gelisah dan pikirannya terus diliput tanda tanya, kakinya bergetar seakan sulit digerakkan.
“sebentar lagi kita akan dapat uang dan loe terkenal sar” Ryan berkata sambil terus memuji-muji Yasar.
“kita berdo’a aja pada Allah, moga keputusan-Nya membuat kita bahagia”
“Ia Sar ayo cepat, Tu kios Bang Dahran udah didepan mata”
Mereka berlari kecil menuju kios Bang Dahran
“Bang minta koran dong” Ryan gak sabaran
“nie” kata Bang Dahran singkat sambil melayani pelanggan lain
Dengan cepat Ryan menyambar koran ditangan Bang Dahran dan mencari halaman utama yang diinginkannya. Mencari sosok nama yang membuat mereka bahagia.
“Sar nama loe gak ada sar” kata Ryan kepada Yasar yang menunggu di belakang Ryan
“Yang benar dong” Ryanpun ikut-ikutan meneliti
Mereka terus menggeluyuti koran mencari-cari sosok nama sang Yasar, waktupun berkehandak lain
“Memang gue gak menang Yan”
“loe sabar ya”
Yasarpun lemas meratapi koran ditangannya, nama Yasar tidak keluar menjadi pemenang
“Sar kita pulang yuk” Ryan menepuk pundak Yasar
“Ayo” Jawab Yasar lesu dan melempar koran sekenanya
“Sar inikan baru awalan untuk mencapai keberhasilan, mana mungkin loe baru megang alat tulis kemarin hari, loe langsung bisa sih, banyak penulis yang tulisannya dah berkali-kali ditulis malah ditolak terus-menerus, mereka gak akan peduli dan mereka akan terus menerus menulis sampai bisa meraih kesuksesan” Ryan mencoba membakar semangat Yasar yang sempat redup
Yasar mencoba berpikir
“iya ya, menuliskan tidak cuma mesti ada lomba, bisa juga dikirim lewat majalah-majalah atau pun surat kabar lainnya”
“Nah tu kan, loe pasti punya waktu untuk meraih kesuksesan dan meraih titel sebagi penulis” Ryan melangkah sambil memegang bahu Yasar
Tiba-tiba disebuah tikungan muncul sebuah mobil Lancer berwarna putih menghadang Yasar dan Ryan, mereka dinaungi rasa kecemasan, tetapi Ryan merasa kenal sama mobil putih yang didepannya. Sesosok laki-laki bertubuh tegap, memakai jas berwarna hitam turun dari mobil. “Ayah” itulah kata yang sempat keluar dari mulut Ryan, Yasar seakan-akan ingin mengambil langkah dua ribu, mendengar kata ayah keluar dari mulut Ryan, Yasarpun menundanya.
Lelaki itupun menghampiri mereka
“Ryan ayo kita pulang” lelaki itu menatap Ryan dengan penuh haru
“Ryan gak mau pulang, Ayah yang dulu mengusir Ryan dan memilih perempuan muda itu mendampingi ayah” Yasar yang disamping Ryan diliput penuh tanda tanya, “apa yang terjadi ni, kok bisa begini” kata-kata Yasar keluar dari dalam hati
Ryan berasal dari keturunan orang kaya, semenjak ibunya meninggal, ayahnya kawin lagi, sejak saat itu ia hilang kehilangan kasih sayang orang tua dan ia memilih keluar dari rumah, sampai ia bertemu dengan Yasar
“Ayah udah bertobat nak, ayah janji, akan memberi kasih sayang sepenuhnya untuk kamu, perempuan muda itu udah bapak usir dari rumah” ayahnya mengemis kasih dari Ryan
“Udah lah Yan bapak lo benar tu” yasar yang tidak tahu apa-apa mencoba menjadi wasit
“Bapak harus janji di depan Ryan bapak harus berubah” Hati Ryan pun mencair
“Bagaimana lagi ayah harus bilang, ayah sekarang tidak punya siapa-siapa lagi selain dirimu nak”
“Ayaah” Ryanpun menghambur kepelukan tubuh ayahnya yang sudah lama belum dirasakannya. Ayahnyapun membalas dekapan Ryan dengan sangat erat melambangkan simbul kasih sayang orangtua kepada anaknya. Yasar yang hanya termenung tak jauh dari dua insan yang melepas rindu, matanya berkaca mengingat dia belum pernah mendapat kasih sayang orangtua padanya, tak dapat dibendung, air matanya pun keluar dengan deras. Dengan cepat ia menyekanya sebelum ketahuan sama Ryan dan Ayahnya.
“Ayah, bolehkah Ryan mengajak seorang teman pulang bersama kita”
“Boleh, siapa nak”
Ryan menunjuk kearah Yasar yang berdiri terpatung menyembunyikan kerinduannya kepada orangtua yang telah meninggalkan selama-lamanya.
Setelah melihat Yasar, Ayah Ryan hanya mengangguk, Ryan menghampiri Yasar.
“Sar lu pulang bersama gue ya”
“Kemana”
“Kerumah gue”
Ryan menarik tangan Yasar dan masuk kedalam mobil, merekapun hilang bersama waktu dan meninggalkan rumah tanpa cahaya.










5 responses so far ↓
1
Zan's
// Jan 19, 2008 at 8:10 am
Mantap.
Cuma pembukaan cerpennya sedikit spontanitas. coba di awali dengan suana, tempat, atau keadaan disekitar.
2
mir24
// Jan 20, 2008 at 9:32 am
Sempurna
walau masih dalam tahap perkecambahan
3
duniaichigo
// Feb 22, 2008 at 6:39 am
ceritanya bagus, ada pesan moralnya juga. Tapi di awal cerita ada nama Rahmat juga, mungkin salah tulis yah, seharusnya Yasar ?
*membayangkan muka Yasar yang menyibak rambut ala Ariel Peterpan
*
4
Baka Kelana
// Sep 4, 2008 at 2:06 pm
Bagus banget ceritanya….Rezeki nggak kemana ya…walaupun Yasar tidak dapat juara dalam menulis cerpen tapi dia akhirnya dia tinggal dirumah orang kaya yaitu rumah bapak temannya Ryan, yang sudah pasti hidupnya nanti akan berubah apalagi denganan ketekunan Yasar
5
azuel
// Sep 4, 2008 at 3:00 pm
Terimakasih Teungku Baka, sebelumnya saya tidak membayangkan cerita selanjutnya seperti yang Teungku Baka ceritakan. ^_^
Leave a Comment