Pertanyaan itu sudah lama bersarang dalam benak saya, dan terngiang-ngiang ketika saya membaca tulisan-tulisan yang ada di depan saya. Entah bagaimana dasarnya, hingga penyakit menulis itu tertular kepada saya. Seingat saya, penyakit itu datangnya dari Abang saya, namanya Fauzan, dia bukan seorang penulis, bukan juga doktor kata, dan juga bukan ahli bedah paragraf. Tapi kenapa dia bisa menulis, dan menular kepada saya, entahlah saya sama sekali tidak tahu.
Menulis tidak susah, itu yang saya rasakan ketika ketika saya masih duduk di bangku SMA, tiap hari saya menulis, dan menulis itu sudah menjadi kebiasaan saya setiap hari, tanpa melihat buku pun saya bisa menulis, saya menulis catatan yang di dikte oleh guru saya, bahkan semua teman saya adalah seorang juru tulis, yang menulis semua tulisan yang ada di papan tulis.
Menulis seperti apakah yang sekarang menjadi penyakit keinginan dalam benak saya, saya juga tak tahu, dan tak mungkin saya tahu karena doktor tulis tidak ada di negeri saya. atau memang saya tidak mau ke doktor tulis. mungkin lebih baik kalau nanti saya yang menjadi doktor tulis, karena saya pernah merasakan penyakit ingin jadi penulis.
Ah, apa yang harus saya lakukan sekarang ini, mungkin saya harus ke berobat ke doktor pilihan dan suster kemauan, hanya mereka lah, satu-satunya harapan hidup saya, agar saya bisa menjadi seorang penulis.









