<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>blog aneuk aceh &#62;&#62; azuel</title>
	<atom:link href="http://pede.journalt.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pede.journalt.com</link>
	<description>Just another Blogetery.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Sep 2008 09:17:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Berhenti Berharap</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2008/09/16/berbenti-berharap/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2008/09/16/berbenti-berharap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 10:36:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Tak seperti biasanya, bulan puasa tahun ini saya tidak bersama-sama keluarga dan bersama-sama teman-teman saya, sekarang saya harus menjalankan puasa di kampung halaman orang lain. Jenjang pendidikanlah yang menuntut saya harus berpisah sementara dengan orang tua dan teman-teman saya. Setelah melewati hambatan dan rintangan di SMA Negeri 2 Peusangan saya meneruskan pendidikan ke Banda Aceh, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak seperti biasanya, bulan puasa tahun ini saya tidak bersama-sama keluarga dan bersama-sama teman-teman saya, sekarang saya harus menjalankan puasa di kampung halaman orang lain. Jenjang pendidikanlah yang menuntut saya harus berpisah sementara dengan orang tua dan teman-teman saya. Setelah melewati hambatan dan rintangan di SMA Negeri 2 Peusangan saya meneruskan pendidikan ke Banda Aceh, dan Alhamdulillah saya lulus tanpa tes di UPT IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Sejak saat itu jua saya di terima sebagai karyawan di salah satu media cetak bernama HARIAN ACEH yang mempunyai slogan menuju aceh baru.</p>
<p><span id="more-112"></span><br />
Saya patut bersyukur atas prestasi yang telah saya raih, jalan hidup saya lumayan lurus untuk saya yang berasal dari keluarga sederhana, selama menuntut ilmu saya tidak mengalami kemiringan dan hambatan dalam bidang ekonomi dan untuk saat sekarang saya boleh tidak mengharapkan kiriman bulanan dari orang tua saya. Tapi apakah saya masih bisa mampu berhenti berharap untuk masa kedepan saya, ah entahlah hanya Allah yang tahu.</p>
<p>Masih banyak lagi orang yang mengalami nasib serupa dengan saya, menjalani hari-hari yang kosong tanpa ditemani orang yang kita sayangi, keluarga misalnya. Pernah saya mendengar ocehan teman saya yang kebetulan juga satu kampung dengan saya Akmal namanya, Sekarang dia sedang praktik di Sibolga, Medan. Dia begitu merindukan orang tuanya di bulan puasa tahun ini, dan ia juga tidak merayakan lebaran tahun ini bersama-sama keluarganya. Dia hanya bisa menangis dan bercanda agar bisa menghilangkan kerinduannya dengan orang tuanya. Jenjang pendidikan juga yang menuntut ia harus mengidap penyakit demam kerinduan.</p>
<p>Nasib saya masih lumayan di bandingkan akmal, saya membutuhkan waktu 5 jam untuk sampai di kampung halaman saya, sedangkan akmal ia butuh satu hari satu malam untuk sampai di tanah kelahirannya. Di bulan puasa ini entah mengapa saya sangat merindukan kampung halaman saya, padahal ini juga untuk masa depan saya juga. Tiap malam saya selalu membayangkan masa-masa dulu saat berpuasa dengan keluarga saya dan juga teman-teman saya, tidak enak rasanya menjalani bulan rahmat ini tidak bersama keluarga dan teman-teman di kampung,</p>
<p>Tapi ini menyagkut masa depan bagaimanapun kita harus menjalaninya dengan hati lapang. Bagi saya yang baru saja belajar hidup mandiri mungkin belum bisa menerima kenyataan ini saya berharap untuk kedepannya agar terbiasa dengan keadaan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2008/09/16/berbenti-berharap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisakah Aku Jadi Penulis!</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2008/09/02/bisakah-aku-jadi-penulis/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2008/09/02/bisakah-aku-jadi-penulis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 16:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ada ada saja]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan itu sudah lama bersarang dalam benak saya, dan terngiang-ngiang ketika saya membaca tulisan-tulisan yang ada di depan saya. Entah bagaimana dasarnya, hingga penyakit menulis itu tertular kepada saya. Seingat saya, penyakit itu datangnya dari Abang saya, namanya Fauzan, dia bukan seorang penulis, bukan juga doktor kata, dan juga bukan ahli bedah paragraf. Tapi kenapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan</strong> itu sudah lama bersarang dalam benak saya, dan terngiang-ngiang ketika saya membaca tulisan-tulisan yang ada di depan saya. Entah bagaimana dasarnya, hingga penyakit menulis itu tertular kepada saya. Seingat saya, penyakit itu datangnya dari Abang saya, namanya Fauzan, dia bukan seorang penulis, bukan juga doktor kata, dan juga bukan ahli bedah paragraf. Tapi kenapa dia bisa menulis, dan menular kepada saya, entahlah saya sama sekali tidak tahu.</p>
<p><span id="more-100"></span></p>
<p>Menulis tidak susah, itu yang saya rasakan ketika ketika saya masih duduk di bangku SMA, tiap hari saya menulis, dan menulis itu sudah menjadi kebiasaan saya setiap hari, tanpa melihat buku pun saya bisa menulis, saya menulis catatan yang di dikte oleh guru saya, bahkan semua teman saya adalah seorang juru tulis, yang menulis semua tulisan yang ada di papan tulis.</p>
<p>Menulis seperti apakah yang sekarang menjadi penyakit keinginan dalam benak saya, saya juga tak tahu, dan tak mungkin saya tahu karena doktor tulis tidak ada di negeri saya. atau memang saya tidak mau ke doktor tulis. mungkin lebih baik kalau nanti saya yang menjadi doktor tulis, karena saya pernah merasakan penyakit ingin jadi penulis.</p>
<p>Ah, apa yang harus saya lakukan sekarang ini, mungkin saya harus ke berobat ke doktor pilihan dan suster kemauan, hanya mereka lah, satu-satunya harapan hidup saya, agar saya bisa menjadi seorang penulis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2008/09/02/bisakah-aku-jadi-penulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulang Tahun</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2008/07/26/ulang-tahun/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2008/07/26/ulang-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 02:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin, tanggal 26 Juni 2008 umur saya genap 18 tahun, berarti hari itu, saya baru saja berulang tahun, tapi ada yang aneh, setiap tanggal 26 Juni, adalah tanggal yang biasa-biasa saja bagi saya, tak ada yang istimewa, padahal kan hari itu ulang tahun saya, bahkan tanggal 26, bisa jadi momok menakutkan bagi saya, bagaimana tidak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span><strong>Kemarin</strong>, tanggal 26 Juni 2008 umur saya genap 18 tahun, berarti hari itu, saya baru saja berulang tahun, tapi ada yang aneh, setiap tanggal 26 Juni, adalah tanggal yang biasa-biasa saja bagi saya, tak ada yang istimewa, padahal kan hari itu ulang tahun saya, bahkan tanggal 26, bisa jadi momok menakutkan bagi saya, bagaimana tidak, berarti saya semakin dekat dengan kematian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-84"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>Mati, adalah hal yang wajar, karena setiap orang pasti akan merasakan mati, tapi, apa yang menakutkan bagi saya! saya takut karena persiapan saya belum matang untuk berpisah dengan jasad saya. Karena Pahala dan Iman yang saya miliki belum cukup berat untuk saya bawa ke alam sesudah mati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selama hidup saya belum pernah mendengar kata Selamat Ulang Tahun dari mulut keluarga saya, bahkan teman saya, atau kadang mereka tidak tau tanggal berapa saya lahir ke dunia ini. Itu juga suatu hal yang wajar. Kalau mereka tau, “Selamat Ulang Tahun Zulham Moga Panjang Umur dan Sehat Selalu”, kata-kata semacam itu, mungkin akan keluar dari mulut teman saya atau pun keluarga saya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tapi, tahun ini ada sesuatu yang beda di tanggal 26, Tepat jam 12 saya di telpon oleh teman saya, namanya Maryulis, dia teman sebangku saya di sekolah. Baru saja saya menekan tombol terima di HP saya, saya langsung di hujam dengan “Selamat Ulang Tahun Zulham Moga Panjang Umur dan Bla Bla Bla”. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>Maryulis mengucapkan kata selamat ulang tahun kepada saya karena tanggal lahir saya dengan tanggal lahirnya sama, 26 Juni 1990. itu yang membuat ia rela menelepon saya hanya untuk mengucapkan kata yang tidak sedikit pun punya arti bagi saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dan setelah tanggal 26 itu, saya mendapatkan 3 buah SMS ucapan selamat dari teman sekelas di sekolah, dan SMS itu, tak sedikitpun menggubris hati saya. Itulah tahun saya mendapatkan kata ucapan selamat, kebetulan karena tanggal lahir saya sama dengan teman saya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2008/07/26/ulang-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perpisahan</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2008/07/23/perpisahan/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2008/07/23/perpisahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 18:44:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Seiring waktu berjalan
Searah jarum jam berputar
Pergantian siang dan malam
Menemani jalannya roda kehidupan
Wahai orang yang Kami cintai
Disaat kami berjalan dalam kegelapan
Engkau datang, membawa penerang

Wahai orang yang selalu Kami kenang
Kami selalu membuat engkau sedih
Tapi, engkau tetap tersenyum
Walau air matamu setiap saat mengalir
 
Wahai orang yang selalu Kami impikan
Kami selalu membuat engkau kecewa
Namun, engkau menyambut dengan wajah ceria
Padahal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seiring waktu berjalan<br />
Searah jarum jam berputar<br />
Pergantian siang dan malam<br />
Menemani jalannya roda kehidupan</p>
<p>Wahai orang yang Kami cintai<br />
Disaat kami berjalan dalam kegelapan<br />
Engkau datang, membawa penerang</p>
<p><span id="more-63"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wahai orang yang selalu Kami kenang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami selalu membuat engkau sedih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tapi, engkau tetap tersenyum</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Walau air matamu setiap saat mengalir</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wahai orang yang selalu Kami impikan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami selalu membuat engkau kecewa</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Namun, engkau menyambut dengan wajah ceria</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Padahal hati kecilmu menangis</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wahai orang yang menyejukkan hati</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami selalu berbuat salah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Hingga kami selalu diliput kebodohan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tapi, dengan senang hati</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Engkau membawa kami menaiki bahtera ilmu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wahai orang yang kami sanjungi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami selalu membuat engkau marah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tapi, engkau selalu memanjakan kami</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dengan nilai yang berharga</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wahai orang yang memberi kami ilmu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tiga tahun kami bersama engkau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Memberi kami penerang kehidupan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk meniti karir ke jenjang yang lebih tinggi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kini telah tiba waktunya untuk berpisah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kami mohon restumu, dengan cahaya yang cerah </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Secerah mentari di siang hari</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Seterang rembulan di malam hari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sabtu, 19 April 2008/3:36 PM</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2008/07/23/perpisahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman UN</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2008/06/13/pengumuman-un/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2008/06/13/pengumuman-un/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 09:20:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Wah&#8230; blogger sekalian, doain saya yach. Soalnya besok hari penentuan saya lulus tidak di SMA 2 Peusangan (S2P). Duh&#8230; gak tahu gimana perasaan saya sekarang. Makan gak enak, tidur ngak nyenyak, semuanya serba ngak enak, (kayak orang jatuh cinta aja he&#8230;he&#8230;). Ugh&#8230; Gimana nih para blogger sekalian, doain saya dong semoga lulus UN, besok hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left">Wah&#8230; blogger sekalian, doain saya yach. Soalnya besok hari penentuan saya lulus tidak di SMA 2 Peusangan (S2P). Duh&#8230; gak tahu gimana perasaan saya sekarang. Makan gak enak, tidur ngak nyenyak, semuanya serba ngak enak, (kayak orang jatuh cinta aja he&#8230;he&#8230;). Ugh&#8230; Gimana nih para blogger sekalian, doain saya dong semoga lulus UN, besok hari yang tidak menyenangkan, tapi kalo lulus pasti menyenangkan, ya kan?</p>
<p style="text-align:left"><span id="more-45"></span></p>
<p style="text-align:left">Para blogger sekalian, bayangkan 3 tahun saya sekolah di S2P, gimana jadinya kalo saya gak lulus, wah depresi banget nich para blogger sekalian. Bisa-bisa saya harus menjalani masa kelulusan di UGD nich. Orang lain pada masuk UGM, UI, UPI, UUD dan U u u lainnya, masak saya harus &#8216;mendekam&#8217; di UGD sih, gak seru deh&#8230;</p>
<p style="text-align:left">Ugh&#8230; mesti gimana lagi ni&#8230;</p>
<p style="text-align:left">Tapi saya masih percaya akan adanya Allah Swt, sang pembuat keputusan yang paling bijak, saya percaya sama Allah tentang lulus tidaknya saya ini. kita kan semua tau keputusan Allah itu yang paling tepat, semua yang dihendaki Allah, pasti itu yang terbaik, ya kan para blogger sekalian, he&#8230; he&#8230; Sekali lagi doain saya ya semoga semeter ini bisa jadi mahasiswa. Sekalin ikut demo&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2008/06/13/pengumuman-un/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Tanpa Cahaya</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2008/01/19/rumah-tanpa-cahaya/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2008/01/19/rumah-tanpa-cahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jan 2008 05:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/2008/01/19/rumah-tanpa-cahaya/</guid>
		<description><![CDATA[Yasar lagi duduk diberanda rumahnya sambil membaca buku ayat-ayat cinta yang baru dipinjamnya di Taman Bacaan Guahira. Dia larut dalam setiap kata-kata bertuliskan di dalam buku-buku tersebut, dan seakan-akan dialah yang menjadi sosok peran utama dalam buku best seller itu.

Dia tergolong seorang predator buku, hampir setiap hari dia melahap setiap buku-buku baru yang terpajang di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Yasar</strong> lagi duduk diberanda rumahnya sambil membaca buku ayat-ayat cinta yang baru dipinjamnya di Taman Bacaan Guahira. Dia larut dalam setiap kata-kata bertuliskan di dalam buku-buku tersebut, dan seakan-akan dialah yang menjadi sosok peran utama dalam buku best seller itu.</p>
<p><span id="more-31"></span></p>
<p class="MsoNormal">Dia tergolong seorang predator buku, hampir setiap hari dia melahap setiap buku-buku baru yang terpajang di Taman Bacaan Guahira, ditengah larutnya Yasar, tiba-tiba Ryan datang menghampirinya dan duduk disamping Yasar.</p>
<p class="MsoNormal">“Sar, gue sial banget hari ini!” Ryan menggeleng-geleng kepala sambil menatap kearah langit</p>
<p class="MsoNormal">Yasar lagi asyik membaca tidak menanggapi perkataan Ryan<br />
“Sar loe denger gak sih apa yang gue omongin” Ryan kesal<br />
“Iya, gue denger” yasar menyahut sambil terus memerhatikan kata demi kata dalam bukunya.<br />
“Sar stopin dulu bacanya, gimana sih sahabat loe lagi menderita eh loe asyik-asyikan baca buku” Ryan mengarah ke wajah Yasar dengan itonasi marah<br />
Yasar lalu berhenti membaca buku dan beradu tatap dengan wajah Ryan<br />
“Ya udah, coba loe ceritain ama gue apa kejadian yang menimpa loe hari ini” Yasar menutup bukunya dan menaruh disamping kanannya.<br />
“Nah gitu dong” Sahut Ryan<br />
Ryan lalu menceritakan dirinya dari pagi dia tak makan dan perutnya terus memberontak meminta makanan, Ryan tak tahan melihat buah rambutan Pak Sabri yang berbuah diluar pagar dan tingginya dua meter dari tanah, ia nekat mengambil untuk mengisi perutnya yang keroncongan, alhasil dia ketahuan sama empunya buah rambutan dan menyudahi dirinya dengan cacian sumpah serapah, karena tak mau terus dicaci Ryan mengambil langkah seribu.<br />
“Oh, jadi kamu nyuri lagi” sesal Yasar sesudah mendengar cerita Ryan<br />
“habis gue lapar sekali” Ryan menimpali<br />
“Yan udah berapa kali gue bilang sama loe, biarpun kita miskin, yang penting kita merdeka, gak usah makek nyuri segala, kalau lo lapar, bilang sama gue, kita cari makan sama-sama, yang penting halal walau cuma sebutir nasi” jelas Yasar lebar panjang<br />
“Ya.. Sar gue insaf”<br />
“Lain kali, kalo gue dengar loe nyuri lagi, loe gak usah dekat-dekat sama gue, gue nyesal temenan sama loe” Yasar hampir naik pitam<br />
Keadaan hening<br />
“Maafin gue Sar, Gue janji, gak akan mencuri lagi” ryan angkat suara<br />
Yasar tidak menanggapi<br />
“Ya udah, mau maghrib nie, ayo kita mandi dulu” Kedua-duanya bangkit dan masuk kedalam rumah.<br />
***<br />
Semenjak Ayah Yasar meninggal, Ibunya jatuh sakit dan akhirnya menyusul ayahnya pulang kerahmatullah, orang tuanya tergolong orang miskin, mereka hanya meninggalkan sebuah rumah reot yang kini ditempati oleh Yasar dan Ryan, Rumah dengan dinding kayu, beralaskan tanah yang hanya diterangi oleh cahaya lilin diwaktu malam, tapi bagi Yasar bagaikan sebuah istana megah yang bersinar waktu dilihat dari langit.<br />
“Yan makan dulu” Yasar menyodorkan tempe kearah Ryan yang lagi rebahan<br />
“Dapat dari mana nie”<br />
“Rini yang kasih sebelum loe pulang”<br />
“Rini anaknya Ibu Salimah tetangga sebelah” Ryan bangun dari rebahannya<br />
“Ia”<br />
“Cuma mereka tetangga yang peduli sama nasib kita” Ryan memasukkan tempe kedalam mulutnya.<br />
“seharusnya kita bersyukur, udah kenal tetangga sebaik mereka” Yasar merentangkan tubuhnya dilantai beralaskan tikar<br />
“Benar loe Sar” jawab Ryan mantap<br />
Yasar bertemu Ryan ketika Ryan melakukan aksinya sebagai pencuri, waktu itu, di tempat sepi Ryan menjambret tas seorang wanita, wanita itu berteriak histeris meminta pertolongan, Ryan tak dapat mengelak ketika berlari. Dia dihadang oleh dua pemuda yang siap menangkapnya, dalam sekejap dia sudah berada ditangan dua pemuda tersebut, dan menghadiahi Ryan dengan pukulan-pukulan yang bertubi-tubi di wajah dan perutnya, “ampun bang” Ryan mencoba dikasihani, tak pelak, dia terus dihujani dengan bogem-bogem mentah oleh dua pemuda tersebut. Lalu Yasar datang dan mencoba menegoisasi dengan dua pemuda tersebut, pemuda tersebut akhirnya luluh dan mencampakkan Ryan yang tersungkur ditanah. Yasar lalu membawa Ryan kerumahnya.<br />
***<br />
“Sar, Yasar gue ada berita gembira nie” Ryan berlari sambil membawa koran<br />
“ada apaan” Yasar mencoba berdiri<br />
“Nie, loe baca dulu nanti baru nanya” Ryan menyodorkan koran kearah Yasar<br />
Yasar terkejut ketika melihat kata-kata bertuliskan LOMBA MENULIS CERPEN dengan total hadiah lima juta rupiah, jantungnya berdegup kencang seakan memecah kesunyian dirumahnya, dan dirinyapun lemah sewaktu melihat tanggal penerimaan naskah terakhir.<br />
“Yan hari ini hari apa” Yasar bertanya dengan hati gelisah<br />
“Hari rabu Sar, ada apa emangnya”<br />
“loe gak liat tanggal penerimaan naskah cerpen terakhir”<br />
“nggak, coba gue liat” Ryan menarik koran di tangan Yasar<br />
“hari minggu, berarti tinggal lima hari lagi dong” Ryan menatap Yasar<br />
“kalo sebulan gue bisa nyelesaian satu buah cerpen, tapi kalo lima hari” wajah Yasar berkerut.<br />
Mereka diam sejenak dan duduk menatap biru langit dipagi hari, Ryan membaca sekali lagi koran yang ditangannya, berharap koran memberikan waktu yang lebih panjang, sampai butapun dia menatap koran, waktu juga tidak akan berubah.<br />
Ryan menatap wajah Yasar dengan Senyuman<br />
“Kenapa loe senyum-senyum”<br />
“gue yakin Sar loe pasti bisa, loe belum mencobanya makanya loe ambil kesimpulan kagak bisa, cuma nulis apanya yang susah, gue yakin loe bisa, karena loe suka membaca” Ryan memberi semangat lebar panjang<br />
“bener juga loe Yan” wajah Yasar kembali ceria, menyibak rambutnya ala Ariel peterpan<br />
***<br />
Lima hari sudah, yasar memutar pikiran dan mencari ide didalam rumahnya yang sedikit gelap, cahaya matahari tidak sepenuhnya memberikan penerang kerumah Yasar, walau bagaimanapun ia tidak pernah putus ide, karena ada sang Ryan yang membakar bara api semangat sang calon penulis. Waktu terus berputar tanpa memikirkan apa yang dilakukan dua bersahabat dalam rumah tanpa cahaya yang terang. Hingga akhirnya hari pengumuman yang didambakanpun datang,<br />
“Gue yakin sar nama loe pasti keluar” Ryan berkata sambil mengunci rumahnya<br />
“Ayo cepat udah gak sabaran nie”<br />
Mereka melangkahkan kaki menuju Kios Bang Dahran, tempat biasa mereka mudah mendapatkan koran untuk dibaca, Hati Yasar gelisah dan pikirannya terus diliput tanda tanya, kakinya bergetar seakan sulit digerakkan.<br />
“sebentar lagi kita akan dapat uang dan loe terkenal sar” Ryan berkata sambil terus memuji-muji Yasar.<br />
“kita berdo’a aja pada Allah, moga keputusan-Nya membuat kita bahagia”<br />
“Ia Sar ayo cepat, Tu kios Bang Dahran udah didepan mata”<br />
Mereka berlari kecil menuju kios Bang Dahran<br />
“Bang minta koran dong” Ryan gak sabaran<br />
“nie” kata Bang Dahran singkat sambil melayani pelanggan lain<br />
Dengan cepat Ryan menyambar koran ditangan Bang Dahran dan mencari halaman utama yang diinginkannya. Mencari sosok nama yang membuat mereka bahagia.<br />
“Sar nama loe gak ada sar” kata Ryan kepada Yasar yang menunggu di belakang Ryan<br />
“Yang benar dong” Ryanpun ikut-ikutan meneliti<br />
Mereka terus menggeluyuti koran mencari-cari sosok nama sang Yasar, waktupun berkehandak lain<br />
“Memang gue gak menang Yan”<br />
“loe sabar ya”<br />
Yasarpun lemas meratapi koran ditangannya, nama Yasar tidak keluar menjadi pemenang<br />
“Sar kita pulang yuk” Ryan menepuk pundak Yasar<br />
“Ayo” Jawab Yasar lesu dan melempar koran sekenanya<br />
“Sar inikan baru awalan untuk mencapai keberhasilan, mana mungkin loe baru megang alat tulis kemarin hari, loe langsung bisa sih, banyak penulis yang tulisannya dah berkali-kali ditulis malah ditolak terus-menerus, mereka gak akan peduli dan mereka akan terus menerus menulis sampai bisa meraih kesuksesan” Ryan mencoba membakar semangat Yasar yang sempat redup<br />
Yasar mencoba berpikir<br />
“iya ya, menuliskan tidak cuma mesti ada lomba, bisa juga dikirim lewat majalah-majalah atau pun surat kabar lainnya”<br />
“Nah tu kan, loe pasti punya waktu untuk meraih kesuksesan dan meraih titel sebagi penulis” Ryan melangkah sambil memegang bahu Yasar<br />
Tiba-tiba disebuah tikungan muncul sebuah mobil Lancer berwarna putih menghadang Yasar dan Ryan, mereka dinaungi rasa kecemasan, tetapi Ryan merasa kenal sama mobil putih yang didepannya. Sesosok laki-laki bertubuh tegap, memakai jas berwarna hitam turun dari mobil. “Ayah” itulah kata yang sempat keluar dari mulut Ryan, Yasar seakan-akan ingin mengambil langkah dua ribu, mendengar kata ayah keluar dari mulut Ryan, Yasarpun menundanya.<br />
Lelaki itupun menghampiri mereka<br />
“Ryan ayo kita pulang” lelaki itu menatap Ryan dengan penuh haru<br />
“Ryan gak mau pulang, Ayah yang dulu mengusir Ryan dan memilih perempuan muda itu mendampingi ayah” Yasar yang disamping Ryan diliput penuh tanda tanya, “apa yang terjadi ni, kok bisa begini” kata-kata Yasar keluar dari dalam hati<br />
Ryan berasal dari keturunan orang kaya, semenjak ibunya meninggal, ayahnya kawin lagi, sejak saat itu ia hilang kehilangan kasih sayang orang tua dan ia memilih keluar dari rumah, sampai ia bertemu dengan Yasar<br />
“Ayah udah bertobat nak, ayah janji, akan memberi kasih sayang sepenuhnya untuk kamu, perempuan muda itu udah bapak usir dari rumah” ayahnya mengemis kasih dari Ryan<br />
“Udah lah Yan bapak lo benar tu” yasar yang tidak tahu apa-apa mencoba menjadi wasit<br />
“Bapak harus janji di depan Ryan bapak harus berubah” Hati Ryan pun mencair<br />
“Bagaimana lagi ayah harus bilang, ayah sekarang tidak punya siapa-siapa lagi selain dirimu nak”<br />
“Ayaah” Ryanpun menghambur kepelukan tubuh ayahnya yang sudah lama belum dirasakannya. Ayahnyapun membalas dekapan Ryan dengan sangat erat melambangkan simbul kasih sayang orangtua kepada anaknya. Yasar yang hanya termenung tak jauh dari dua insan yang melepas rindu, matanya berkaca mengingat dia belum pernah mendapat kasih sayang orangtua padanya, tak dapat dibendung, air matanya pun keluar dengan deras. Dengan cepat ia menyekanya sebelum ketahuan sama Ryan dan Ayahnya.<br />
“Ayah, bolehkah Ryan mengajak seorang teman pulang bersama kita”<br />
“Boleh, siapa nak”<br />
Ryan menunjuk kearah Yasar yang berdiri terpatung menyembunyikan kerinduannya kepada orangtua yang telah meninggalkan selama-lamanya.<br />
Setelah melihat Yasar, Ayah Ryan hanya mengangguk, Ryan menghampiri Yasar.<br />
“Sar lu pulang bersama gue ya”<br />
“Kemana”<br />
“Kerumah gue”<br />
Ryan menarik tangan Yasar dan masuk kedalam mobil, merekapun hilang bersama waktu dan meninggalkan rumah tanpa cahaya.</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2008/01/19/rumah-tanpa-cahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Just Kidding</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2008/01/14/just-kidding/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2008/01/14/just-kidding/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 16:23:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/2008/01/14/just-kidding/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Cinthiana (Siswi SMA 1 Bireuen)
Dear Diary…
Hari yang sangat melelahkan bagi seorang pelajar SMA, pergi pagi pulang sore. Seperti orang kantoran aja ya…! Pelajar kan gak mau kalah uga ma ortunya. Cuma bedanya kita nimba ilmu, kalo ortu kan nimba uang he.. he.. tapi selelah-lelahku, ada bahagianya juga lo.. aku jadi semangat karena disampingku ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Cinthiana (Siswi SMA 1 Bireuen)</p>
<p><strong>Dear</strong> Diary…<br />
Hari yang sangat melelahkan bagi seorang pelajar SMA, pergi pagi pulang sore. Seperti orang kantoran aja ya…! Pelajar kan gak mau kalah uga ma ortunya. Cuma bedanya kita nimba ilmu, kalo ortu kan nimba uang he.. he.. tapi selelah-lelahku, ada bahagianya juga lo.. aku jadi semangat karena disampingku ada sahabat-sahabat yang baik dan bikin fres.</p>
<p><span id="more-30"></span></p>
<p>Mereka penambah stamina saat aku sedang capek, lelah, dan be-te disekolah. Varia, Trini, dan Nia mereka adalah bintangku yang selalu berkedip. Mereka adalah sobat yang aku sayangi. Diary, dah dulu ya. Curhatnya…ngantuk banget nie… Good Night..!</p>
<p>Thiana menutup diarynya, sebelum tidur dia memandangi langit melalui jendela. Sesaat dia tersenyum pada bintang-bintang yang di beri nama Varya, Trini, dan Nia. Good Night ya kawanku. Thiana menutup jendela hendak tidur lalu menarik selimut dan tak lupa baca doa. Upss, tiba-tiba Thiana tak jadi memejamkan matanya, dia teringat sesuatu. “Astaghfirullah, Aku lupa membuat PR Bahasa Indonesia..?!!. duh Gimana nie..??” Thiana gak jadi tidur dia menuju meja belajarnya dan membuka buku bahasa indonesia. Sesekali dia menguap, dan tidak terasanya tertidur di atas meja belajarnya.</p>
<p>kriiiiing……!!!<br />
Thiana terkejut mendengar jam beckernya berbunyi, jam 05:30 dia lalu ke sumur berwudhu dan shalat seperti biasanya, setelah salat mandi, pake baju, dan dan tak lupa satu itu…..tu…..breakfast…! dengan semangat thiana menuju ke ruang makan, perutnya udah misscal sich dari tadi. Di meja udah ada ayah dan adik yang lagi makan, sementara bunda lagi asyik menggoreng tahu.</p>
<p>“Ayah, hari ini thiana ada les, jajannya di tambah ya…?”, Thiana mengingatkan ayahnya lagi soal uang jajan sambil menikmati makan paginya.<br />
“Iya ayah tau! Kamu kan setiap hari selalu ngingetin ayah soal uang jajan”, ayah lalu mengambil dompet dan mengeluarkan uang selembar 10 ribuan.<br />
“Makasih ya Yah…” dengan cepat thiana menyambar uang itu. Lalu dia pamitan ama bunda dan ayah. Tak seperti biasanya hari ini Dia harus mengejar waktu agar tidak telat, jam pertama biologi, kalo telat, kena hukuman, baca doa di depan kelas sendirian.<br />
“Thiana Berangkat dulu ya… Assalamu’alaikum”<br />
Dia lalu melangkahkan kaki menuju terminal, di sana dia ketemu Trini dan Nia. Seketika suasana terminal mulai ramai dipenuhi orang berlalu lalang memulai aktifitasnya seperti biasanya setiap pagi. Diantara keramaian itu Thiana sudah ngumpul ama temannya menunggu bis.<br />
“Kok bisnya lama banget ya” Trini mengeluarkan suara.<br />
“Tenang… sebentar lagi datang kok!” kata Thiana biasa<br />
Dari kejauhan muncul sebuah bis<br />
“tuh bisnya datang ! ”, Nia menunjuk kearah timur.<br />
“Nah gue bilang apa… makanya sabar dong, orang sabar disayang tuhan”, Thiana sedikit ngerumpi.<br />
“iya iya”, Trini membenahi<br />
Dan merekapun beranjak naik kedalam bis dan menuju ke sekolah hilang bersamaan dengan pagi yang ceria dan matahari mulai naik sepenggalah.<br />
***<br />
“Varya soulmate lo datang tu!”<br />
Trini sengaja mengeraskan suaranya, ketika kebetulan liat Edo masuk ke kelas mereka sewaktu jam istirahat. Sesaat wajah Varya nampak merah, bukan Karena malu tapi kesal ama Trini yang selalu mengejeknya. Tiap hari edo selalu muncul di kelas di kelas mereka, dan edopun sering SMSan ama Varya, Cuma Varya yang selalu cuek tapi terkadang merasa senang saat membaca sms dari edo, karena edo juga gak kalah kerennya ama bintang film he…<br />
“Hei Tri bisa diam gak sich, awas lo ya…” Varya mulai mengancam<br />
“Sorry cuma becanda, itu aja marah, Varya maniz deh”<br />
Dan tak terelakkan lagi, Varya pun naik pitam, Trini terpaksa lari ketika Varya megang sapu ngejar-ngejar Trini. Seperti kayak di film tom and jerry, emang begitulah masa SMA, masa yang menjadi tumpuan kenangan masa depan.<br />
Thiana ana Nia cuma bisa menjadi penonton, kalu ikutan ntar jadi korban juga, karena gak tahan lagi, Thiana pun ikut andil<br />
“Oy udah dong, aku lapar ne, kita ke kantin yuk!”<br />
Spontan, mereka pun berhenti, kata-kata Thiana berhasil meleraikan mereka. seperti di hipnotis ketika mendengar nama kantin.<br />
Walau dengan nafas terengah-engah keduanya mengikuti Thiana dan Nia menuju kantin. Mereka menebar pandangan ke semua sudut kantin, ada banyak bangku kosong dan mereka milih di tempat biasanya.<br />
“Mas Bakso Empat” Thiana memesan makanan<br />
“Thiana mas rio tu.. kayaknya dia kesini, emang kalo udah jodoh dimanapun bisa ketemu.” Usil Trini muncul lagi<br />
“Ni, diem dong, pliztdeh, cowok tu gak level ma aku” Thiana mencoba ngeles<br />
“Na, kalo suka bilang aja” Varya mulai ikut-ikutan ngejek, baksopun disajikan dihadapan mereka.<br />
Kalo dah gini urusannya, mereka selalu kompak buat nyari-nyari kesempatan Ngejek empat diantara salah satunya. Walau itu sudah kebiasaan sehari-hari, itu tak kan menjadikan persahabatan mereka sirna dimakan waktu begitu saja. Jalinan persahabatan mereka selalu penuh warna dan makna.<br />
“Wah sialan mereka bersatu nyerang gue” Bathin Thiana mencoba mencari-cari alasan agar tak tertimpuk kata-kata pahit terus menerus. Bersamaan dengan itu ada cowok item lewat, “dia kan…wah kesempatan balas dendam nie.” Thiana dapat ide.<br />
“Trini ada mas jay tu! gile..kalian berdua memang pasangan serasi.” Thiana balas ngejek trini<br />
Trini langsung tersipu malu dan menundukkan wajah, dan terlihat kikuk, yang lain tertawa melihat saltingnya trini. Thiana buru-buru membayar bakso, walau gak sampai habis dimakannya, karena kalo terus disitu nantinya jadi buyonan bahan ledakan terus menerus. Thianapun menuju kelas disusul tiga temannya dari belakang. Pas nyampe didepan pintu kelas, bel masuk pun berbunyi.<br />
“Thiana, coba liat pinnya”, Varya mengerutkan keningnya waktu melihat pin tersebut, lalu dia balik ke belakang meliat pin Nia dan Trini<br />
“ha..ha.. Ich norak banget sih pinnya…!!! Sorry man just kidding<br />
he.. he..”. Eugh dasar Varya sifat jeleknya emang gak pernah ilang, suka banget ngejek orang. Masak pin kita dibilang norak, padahal kan keren. Emang dasar sirik aja, maklum Thiana, Trini dan Nia pinnya sama.<br />
Kemaren mereka belinya bareng, si Varya gak ikutan soalnya rumah dia gak searah.<br />
Gak mau kalah Trini komentar<br />
“Eh ni cantik tau…, kita belinya mahal lagi.<br />
Nia juga menambahkan “Iya, tau nie si Varya masak di bilang jelek bilang aja kamu sirik kan!!<br />
“eh siapa lagi yang sirik, gak punya juga gak pa pa!” Varya menjulurkan lidahnya, itu tandanya dia gak setuju sama pendapat nia.<br />
“Thianakamu tau gak, kemaren adek aku bilang, dapat darimana pin itu… dari snack ya”, Trini mengatakan sambil berbisik pada Triana biar gak kedengaran sama Varya.<br />
“Ha.. ha.. gila masak dapat dari snack sih, gak tau apa kita beli”, Thiana gak tahan dan tertawa keras. Trini yang melihatnya Cuma bisa bengong “kaya king dong”</p>
<p>Aktifitas sibuk siswa XI IPA B berhenti begitu guru masuk kelas. Semua kembali pada posisi semula, memasang wajah sumringah dan duduk dibangku masing-masing, layaknya anak TK yang patuh saat guru masuk kelas. Tapi empat orang cewek ini mulutnya gak pernah jeda sedikitpun, mereka tak peduli meski guru sedang memberi pelajaran kepada mereka, bahkan mereka terkenal empat cewek yang selalu ribut. siapa lagi kalo bukan Thiana, Trini, Varya dan Nia, mereka saling ngejek kekurangan masing-masing. Sedikit saja ada kata yang terselip pasti menjadi bahan pembicaraan yang di permasalahkan setiap hari. Yang anehnya, walaupun mereka bertengkar seperti itu, ujung-ujungnya pasti just kidding, mereka emang pelajar yang unik dan tampil beda tak ada raut kedendaman di hati mereka.<br />
Jam menunjukkan pukul 20:00 WIB, dikamar yang bergoreskan cat putih, dengan bad cover warna hijau. Thiana merebahkan diri diatas kasur, Thiana mengambil HP disaku bajunya, membuka kunci, dan terlihat wallpaper close-up wajah-wajah sahabatnya yang berpose ria waktu Ulang tahunnya tahun lalu. Thiana memandangi lekat-lekat wajah sahabat-sahabatnya. Dalam hatinya dia terbayang saat-saat masa pe-de-k-te dulu, eit jangan salah pe-de-k-te juga ada istilah dalam bidang persahabatan, bukan hanya di pacaran. Thiana dan Varya dari es-em-pe memang sudah dekat, malah satu bangku lagi. Sementara Trini dekat dengan Nia, walaupun Trini dan Nia satu ruangan sama thiana tapi mereka gak deket, bisa dibilang gak saling akrab gitu! Mereka mulai dekat saat sama-sama masuk es-em-a satu dan satu kelas lagi. Disini awalnya rasa kekompakan dan rasa empati sesama mulai tumbuh, walaupun beda karakter tapi bisa saling menghargai dan memahami.<br />
Trini pintarnya Bahasa Inggris kalo dilihat sekilas emang berdarah orang inggris (Cuma istilah doank,jangan percaya ya…!!!), wataknya yang tak bisa dilupakan ialah banyak bicara, kadang orangnya baik, tapi banyak juga jahilnya yang belum terungkap. Nia orangnya hobinya melukis, melukis apasaja yang tebersit dihatinya, dia lebih suka tahan omongan daripada mencari-cari kejelekan orang lain. Nah kalo Varya sukanya ilmu pasti yaitu matematika, orangnya jail, gokil dan cepat dalam bertindak. Yang terakhir Thiana gadis yang soft dan baik hati, paling suka memberi semangat sahabat-sahabatnya kala dibalut kesusahan.<br />
Eh dah pada ngintip aktornya nie…</p>
<p>Thiana mengambil diarynya dia merasa perlu mengatakan isihatinya malam ini dan mengisahkan keluh kesah dirinya.<br />
Dear Diary…<br />
Diary, aku mungkin orang yang paling bahagia didunia ini, punya sahabat-sahabat seperti Varya, Trini dan Nia, terlalu hiperpola ya, ah biarin aja dech, emang aku yang paling bahagia kok didunia ini he..he.. just kidding. Kata just kidding ni punya makna khusus buat kita, dia juga tembok penghalang, setiap kita perang pasti ujung-ujungnya just kidding. Karena itu kita gak pernah marahan selama ini. Setiap persoalan yang berstadium empat pasti just kidding<br />
Diary coba suami istri yang sedang bertengkar pakek senjata just kidding, pasti mereka gak perlu bercerai untuk menyelesaikan masalahnya. Kasian anak-anaknya nanti pada depresi dan frustasi akibatnya bunuh diri, apalagi file otak rusak dan menjadi gila, pasti rumah sakit jiwa gak ada kamarnya, udah pada penuh semuanya!.<br />
Tau gak Diary sejak aku ketemu Varya, Trini, dan Nia. Hidupku jadi lebih hidup, senang, gembira semuanya bercampur satu dalam kebahagian. Sahabat-sahabat aku itu lucu-lucu sich, tiap hari kerjanya selalu pasang wajah ceria. Sahabat-sahabatku, aku seneng bisa bersama kalian, kita gak pernah bertengkar dan marahan. Semua duka lara kita, kita berbagi semuanya. Dan aku ingin selalu just kidding &#8211; just kidding and just kidding.<br />
Thiana menutup diarynya, memeluk erat diary yang berwarna pink, sangat erat seakan-akan ada yang mau mengambil diary itu darinya. Dia lalu memejamkan matanya dan berharap dia bermimpi indah. Kali ini dia tidak melihat bintang dulu sebelum tidur seperti biasanya, alasannya dia gak tahan lagi pengin tidur. Dia Cuma berbisik pada bintang langit, good night sobatku, just kidding ya!!! Thiana kini terlarut dalam alam mimpi yang menjadi bunga tidur dalam keheningan malam.</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2008/01/14/just-kidding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Enaknya Sajian Di Warung Internet</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2008/01/14/enaknya-sajian-di-warung-internet/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2008/01/14/enaknya-sajian-di-warung-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 16:15:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/2008/01/14/enaknya-sajian-di-warung-internet/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah lama aku berkontraksi dengan layar komputer, aku semakin lihai aja. pokoknya komputer seru deh, hitung-hitung buat nambah ilmu teknologi, biar gak dibilang gaptek. Banyak teman-teman aku gak kenal sama teknologi buatan orang barat yang satu ini. Mereka gak tau manfaat lebih dalam komputer, kalo mereka udah tahu mereka pasti akan nangis minta di beliin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:left"><strong>Setelah</strong> lama aku berkontraksi dengan layar komputer, aku semakin lihai aja. pokoknya komputer seru deh, hitung-hitung buat nambah ilmu teknologi, biar gak dibilang gaptek. Banyak teman-teman aku gak kenal sama teknologi buatan orang barat yang satu ini. Mereka gak tau manfaat lebih dalam komputer, kalo mereka udah tahu mereka pasti akan nangis minta di beliin komputer ama ortu mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left"><span id="more-29"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left">Mereka tahu cuma mereka tak mau mengkaji lebih dalam ilmu komputer, coba mereka sama dengan pikiranku sekarang, mungkin teman-temanku udah pada canggih semua. Kalo dulu disekolah kami juga tidak ada yang namanya komputer ada Cuma satu itupun di kantor ADM sekolah, ugh… payah sekolah kami kuno banget. sekolah kami ketinggalan dengan komputer atau barangkali gurunya yag tidak mau menahu tentang komputer. Emang komputer gak penting apa, sekolah lain malah udah ada lab komputer, ah menyebalkan.</p>
<p style="text-align:left"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left">Tapi kalo sekarang itu kagak masalah lagi, sekolah kami sedang di bangun lab komputer katanya sih lengkap dengan internet yang langsung pakek parabola sendiri. Tapi kita gak tahu sampai kapan internet datang kesekolah aku, karena aku ingin sekali teman-teman di sekolahku semuanya menjadi netter.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left">Tapi sekarang aku gak usah takut lagi dengan kelangkaan komputer, karena pekerjaan sehari-hari aku sekarang membuka jendela komputer dan menerobos kedalam komputer mengukir rahasia yang terpendam di balik layar kaca komputer. Eh kalo dari jendela itu gak sopan namanya, Ahh pikir amat pintunya aja gak ada, he..he… hari demi hari kulalui, semua ekspresi diriku kulimpahkan kepada komputer, mulai dari cerita sedih, senang, semuanya kutuangkan dalam di Microsoft word, bahkan komputer menjadi alat yang terpenting bagi duniaku, sebagian hari-hari kuhabiskan dengan duduk di depan komputer, tapi buat kewajibanku yang lima waktu, aku gak pernah lupa. Aku selalu mengutamakannya. Untuk apa hidup di dunia kalau meninggalkan kewajiban. Itu namanya hidup sia-sia. Selain puas dan ada bosannya komputer juga punya fasilitas menjelajah dunia maya yaitu internet. Aku sekarang sudah bergaul dengan yang namanya internet, gimana.. hebat bukan!! itu semua gara-gara abangku yang setiap harinya semua dibicarakan tentang internet, tapi maklum dia seorang netter. Jadi wajar lah kalau dia ngedakwah tentang internet karena banyak sisi positif dan ada juga yang sisi negatif. Setiap hari dia bilang padaku enaknya ngenet, semua aroma kata-katanya bikin aku ingin mencicipi bagaimana rasanya sajian internet. Ternyata setelah aku terjun langsung ke warung internet, eh gak tahunya aku jadi ketagihan. Malah sekarang aku sudah langganan dengan warung internet, karena aku ingin melahap semua menu di internet.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left">Sekarang aku jadi lebih sibuk, selama aku langganan dengan warnet, aku ingin terus-terusan menulis, karena tulisanku akan kupamerkan kepada orang-orang melalui internet. Dan sekarang aku sudah punya rumah di internet, aku bisa menyimpan semua berkas-berkas hasil karyaku di rumahku sendiri. Kalo orang-orang ingin melihatnya tinggal membukanya dan melihat isinya. Semua hasil buah pikiranku kusimpan di rumahku sendiri, bagus atau tidak bagusnya karyaku, aku gak akan peduli biar pun nantinya bagus itupun hasil pikiranku sendiri yang penting gak pernah memakai yang namanya copas (copy paste). Aku harus banyak membaca supaya aku punya ide untuk merangkai kata-kata sebagai kepenulisanku. Tapi untuk bahan bacaan aku tidak pernah khawatir karena aku sekarang pengurus Taman Bacaan <a href="http://www.guahira.or.id/">GUAHIRA Community</a> di kotaku sendiri, sebuah tempat dimana orang-orang bisa menimba ilmu dengan membaca, selain bukunya banyak, tempatnya juga strategis dan mudah dijangkau. Aku berharap semua orang yang berstatus pelajar untuk singgah dan menikmati aneka buku-buku yang ada di daftar menu di GUAHIRA Community.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left">Aku salah karena dari dulu aku gak senang yang namanya menulis, coba dari dulu aku suka menulis pasti sekarang aku udah jadi penulis yang handal. untung ada abangku yang menyebarkan aliran menulis padaku, aku sekarang sudah menganut sedikit tentang ilmu kepenulisan, sekarang aku bisa, berkat kemauan ku yang kuat dan tekad ku yang hebat. Aku ingin menjadi seorang penulis dan netter. Tapi aku tau internet itu banyak sekali hal-hal yang menyimpang dengan ajaran agama islam, dan aku juga tahu bagi siapa saja yang sudah tahu dan manfaat pentingnya dari internet mereka akan menjadikan internet wahana untuk mencari ilmu, bukan sekedar mencari tahu. Betulkan….!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2008/01/14/enaknya-sajian-di-warung-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bersahabat Dengan Internet</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2008/01/14/bersahabat-dengan-internet/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2008/01/14/bersahabat-dengan-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 16:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/2008/01/14/bersahabat-dengan-internet/</guid>
		<description><![CDATA[“Am jak warnet Yak” kata bang helmi mengajak sambil berjalan kearahku “pu but Teuh” sahut aku “lon nak chating ngon napon nyoe” “Oh bereh that nyan” kataku sambil berjalan mengambil Honda jhon. Piiranku saat itu menerka-nerka apa yang dimaksud dengan internet, istilah chating dan browsing.

Ditengah perjalanan kami merasakan sejuknya angin malam yang sengaja menerpa wajah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em>“Am jak warnet Yak”</em> kata bang helmi mengajak sambil berjalan kearahku <em>“pu but Teuh”</em> sahut aku <em>“lon nak chating ngon napon nyoe”</em> <em>“Oh bereh that nyan”</em> kataku sambil berjalan mengambil Honda jhon. Piiranku saat itu menerka-nerka apa yang dimaksud dengan internet, istilah chating dan browsing.</p>
<p><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span id="more-28"></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Ditengah perjalanan kami merasakan sejuknya angin malam yang sengaja menerpa wajah kami hingga kami kedinginan <em>“ho tajak nyoe bang bak kampus pu bak queen” </em>tanyaku penasaran karena yang kutahu warnet yang da di kota matang hanya di kampus almuslim dan toko queen. <em>“bak kampus manteung”</em> jawab bang helmi sambil mengotak atik HP yang ada di tangannya. Memang kota kami baru-baru ini muncul beberapa warung internet, orang lain udah pada bosan eh, gak tahunya kami baru muncul. memang kota kami jauh ketinggalan dengan teknologi yang secanggih ini.</p>
<p class="MsoNormal">Aku dan bang helmi melintas jalan Matang (panggilan nama kota tempat aku tinggal) menembus cahaya lampu yang berteger di atas kepala, dan melewati beberapa toko-toko dan warung kecil, hingga kami sampai di depan pintu masuk Yang bertuliskan Warnet Unimus. Tanpa kata apapun bang helmi langsung turun dari Honda jhon ku dan masuk ke dalam warnet. Dan aku mengikutinya dari belakang</p>
<p class="MsoNormal">Dengan penasaran aku bertanya-tanya dalam hati <em>“kiban warnet nyan le lon hanjeut meubacuk pih, alah pike that nyan lon tameng laju</em>” pas dengan kedatangan kami kebetulan masih ada satu tempat yang kosong. Bang Helmi langsung duduk dan menghidupkan computer, setelah aku melihat Cuma ada satu kursi tempat bang helmi duduk, dan aku berdiri di belakang bang helmi sambil memandang apa yang dilakukan bang helmi, cara menjinakkan internet.</p>
<p class="MsoNormal">Mataku melihat di sudut ruangan rupanya ada sebuah kursi kosong, aku menariknya dan langsung duduk di belakang Bang Helmi sambil memerhatikan kelihaian bang helmi memainkan jari-jari tangannya menari-nari diatas keyboard dan mouse yang ada di depannya.</p>
<p class="MsoNormal"><em>“Am duk ju blah deh hana ureung le”</em> kata bang helmi sambil menggeleng kepalanya kesamping kiri. Kebetulan disana ada komputer yang baru saja kosong dan tak ada yang menyentuh. Layarnyapun terpampang tulisan windows XP dan siap pakek.</p>
<p class="MsoNormal"><em>“hana long teu’oh long bang”</em> jawab aku tidak mengerti.</p>
<p class="MsoNormal"><em>“hana pu cobo-coba ju ile, dengon coba-coba makajih eunteuk jeut”</em> penjelasan bang helmi kepadaku.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan sigap aku duduk di depan computer dan mengarahkan mouse ke icon yang bertuliskan internet <em>“mungken nyoe sang internet”</em> gumamku dalam hati. Setelah terbukanya kotak dialog internet aku langsung mengetik alamat www.google.com di address, hanya itu yang aku tahu situs internet. Dengan cepat muncullah tulisan google dengan tulisan berwarna-warni.</p>
<p class="MsoNormal">Kebetulan aku pernah membaca buku tentang google di majalah kalau tidak aku bakal tidak tahu apa-apa. Dirumah aku sudah bisa digolongkan dalam taraf rata-rata dalam memainkan komputer, dirumah aku sering bersahabat dengan adobe photoshop walau gak akrab gitu. Aku ingin langsung mencari info tentang adobe photoshop mungkin dengan mencari menjelajah situs ini, mungkin pengetahuanku bisa lebih bersahabat, tanpa basa-basi aku langsung menulis kata “adobe photoshop” dimesin pencari goggle. Enter. dengan agak sedikit lambat muncullah beberapa info tentang adobe photoshop. sewaktu aku memerhatikan dengan seksama tulisannya berbasis dalam bahasa inggris. karena aku belum mengerti bahasa inggris aku langsung menutupnya kembali.</p>
<p class="MsoNormal">Aku mengklik icon gambar lalu aku tuliskan kata KAKA sebuah nama pemain bola yang terkenal dari brazil. Dengan sigap muncullah beraneka ragam foto-fotonya Kaka dengan gaya yang trendy-trendy. Mau mengoleksi foto-fotonya malah aku gak ada alat untuk menyimpannya untuk aku bawa pulang biasanya dikenal dengan Flash Disk. Emang aku pernah meminta dbeliin sama abangku, dia selalu bilang <em>jeut</em>, dan hasilnya sampai matipun gak akan dibeli.</p>
<p class="MsoNormal">Ditengah kelalaian aku belajar internet, pemilik sang warnet duduk memerhatikan diriku, dan aku sedikit kikuk, wajahnya sedikit serem “<em>Oma kah dek gam ka peu tameung silop keuno udalam</em>”. kata penjaga warnet</p>
<p class="MsoNormal">Aku terkejut melihat kebawah tidak seorangpun yang memakai sandal hanya aku yang memakai sandal “kapaloe teuh” sahut aku sambil melihat kabawah.</p>
<p class="MsoNormal"><em>“orang baru tu bang”</em> kata bang helmi di sebelah.</p>
<p class="MsoNormal"><em>“bek le me silop uluwa mat bak jaroe puduk uluwa”</em> kata penjaga warnet dengan itonasi marah.</p>
<p class="MsoNormal">Aku tak berkata sepatah katapun, lalu ku ambil sandal, aku bawa keluar, semua orang melihat kearah aku, aku jadi terasa malu dan kikuk, tak tau harus berbuat apa, aku langsung melempar sandal keluar ruangan. Aku duduk kembali di depan komputerku. Dengan rasa malu aku tidak lagi melihat kiri kanan melainkan terus melihat kedepan kearah monitor. Dalam hati aku berkata <em>“mimpi apa aku malam ini, musibah, musibah”</em></p>
<p>Setelah merasa sedikit bersahabat dengan internet, lalu aku mencairkan uang pada penjaga warnet. Dan dia menanyakan identitasku aku menjawab apa adanya dan lancar. Lalu aku duduk kembali memerhatikan bang helmi yang belum puas berinteraksi dengan internet. Dan malam itu aku mendapat pengalaman yang sangat berharga dan sulit dilupakan, ingin bersahabat dengan internet, eh! gak tahunya ditimpuk rasa malu. Paling tidak aku sudah menjelajah internet dan akan terus menelusurinya.</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2008/01/14/bersahabat-dengan-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu Itu Modal</title>
		<link>http://pede.journalt.com/2007/11/07/ilmu-itu-modal/</link>
		<comments>http://pede.journalt.com/2007/11/07/ilmu-itu-modal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Nov 2007 08:19:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>azuel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://azuel.wordpress.com/2007/11/07/ilmu-itu-modal/</guid>
		<description><![CDATA[Bukan hanya uang yang bisa di jadikan modal, ilmu juga harus di jadikan modal, dengan uang kita gunakan modal untuk berdagang, bisnis, atau lain sebagainya, kalau kita tidak punya ilmu bagaimana bisa berdagang, harus mengelola hasil dagangan, bisa-bisa kita tertipu oleh pembeli. di zaman yang serba ’’busy’’ ini kita wajib menyelimuti diri kita dengan ilmu.

Ilmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left"><strong>Bukan</strong> hanya uang yang bisa di jadikan modal, ilmu juga harus di jadikan modal, dengan uang kita gunakan modal untuk berdagang, bisnis, atau lain sebagainya, kalau kita tidak punya ilmu bagaimana bisa berdagang, harus mengelola hasil dagangan, bisa-bisa kita tertipu oleh pembeli. di zaman yang serba ’’busy’’ ini kita wajib menyelimuti diri kita dengan ilmu.</p>
<p style="text-align:left"><span id="more-23"></span></p>
<p style="text-align:left">Ilmu itu ada di mana-mana, bukan hanya sekedar di tempat pendidikan di saat kita mengecap di bangku sekolahan. Alam semesta ini, banyak sekali ilmu yang tersimpan bagi orang-orang yang berpikir.</p>
<p style="text-align:left">Karya seni rupa yang Allah ciptakan tiada satu pun yang bisa di setarakan. Lihatlah di saat anda sedang berjalan di pasar, banyak sekali wajah yang anda temukan, tetapi tidak satupun yang serupa, padahal mereka sama diciptakan dari setetes air yang hina.</p>
<p style="text-align:left">Di saat kita melihat alam hamparan yang merupakan karya seni Allah YME. bisa kita jadikan ilmu, cukup dengan satu cara yaitu berpikir, cukup dengan berpikir dunia ini bisa dijadikan tambang ilmu, pernahkah anda melihat seekor nyamuk, misalnya, yang selalu mengganggu kita pada malam hari binatang kecil yang sekali kita pukul langsung mati. Tidakkah terpikir akan kecepatan sayap yang di ayunkan oleh seekor nyamuk di saat sedang terbang, sehingga kita tidak bisa melihat sayapnya. Anda kenal dengan buah-buahankan. Tentu anda kenal bahkan hampir setiap hari anda mengkomsumsi buah-buahan. Tidak terlintaskah di pikiran kita, buah yang setiap hari memberi kita vitamin, tenaga, bahkan kecerdasan berpikir, berasal dari tanah yang membuat kita kotor di saat menyentuhnya. Semua itu hanyalah sebuah seni rupa dan hasil karya Allah SWT.</p>
<p style="text-align:left">Agar kita bisa menjadi orang yang berilmu kita harus banyak mengasah otak dengan cara berpikir yang dibumbui dengan membaca, membaca bukan hanya untuk mengetahui tetapi memahami secara baik. Membaca adalah salah satu cara agar kita bisa berjalan di atas dunia. Dengan membaca berarti kita telah membuka jendela dunia. Di zaman yang secanggih ini, tiada sulit kalau kita ingin berjalan-jalan di seluruh dunia. salah satu cara yaitu dengan masuk dalam dunia maya (internet). Di saat kita sudah berada dalam dunia maya seakan-akan kita sudah berpijak di seluruh alam semesta hasil buatan Allah SWT. Semua yang ingin kita kerjakan, semua yang ingin kita hamparkan, semua itu bisa dan mudah yang terkemas dalam satu kemasan yaitu dunia maya.</p>
<p style="text-align:left">Ilmupun tiada guna kalau tidak dinyatukan dengan iman. Untuk apa ilmu kalau digunakan di jalan yang menyesatkan. Tetapi ilmu yang distempeli iman itulah yang berguna di jalan yang benar. Apabila ilmu sudah menempel di jiwa maka dengan ilmu kita tak akan kehilangan ide-ide baru dan gagasan baru dalam hidup kita. Untuk membangun sebuah kehidupan yang cerah cukup dengan iman yang bercahaya dan ilmu yang menyinari. Jika ilmu dan iman sudah terpadu dalam jiwa kita, maka kita akan menjadi seorang yang bercahaya dan menyinari dunia. cukup indah segala sesuatu yang kita lakukan hanya bermodal ilmu dan iman yang sudah melekat di dalam dada. Tiada yang dapat menghalangi keinginan kita untuk terus melangkah melanglang buana alam semesta.</p>
<p style="text-align:left">Ilmu itu mudah di cari dan mudah di dapat, dari kecilpun kita sudah menjadi seorang yang berperan mencari ilmu, ilmu bagaikan dedaunan yang bergelantungan di atas pohon, Cuma bagaimana cara supaya kita bisa menggapainya agar tidak jatuh kebawah. Setiap manusia punya ilmu yang beranekaragam, tidak dapat dipilah belah bagaimana wujud ilmu yang dimiliki seseorang. Ilmu bagaikan air, jika diminum maka mengalirlah ke seluruh tubuh dengan mudahnya. Apa yang terjadi jika seseorang yang tidak punya ilmu menjalani hidup dan hiruk pikuk di alam yang maha luas ini. Yang pasti orang tersebut menderita penyakit kebatinan.</p>
<p style="text-align:left">Di abad yang serba problem ini kita tidak cukup mengarungi hidup dengan money, apabila kita tidak di payungi dengan ilmu, ilmu itu tiang kehidupan, kehidupan akan mati sia-sia apabila tidak di bekali dengan ilmu, oleh karena itu jadikan diri anda bahagia dengan ilmu, jangan jadikan diri anda orang gajian tapi orang yang memberi gaji, dengan ilmu kita bisa bekerja di tempat mewah, mendapatkan uang yang memuaskan hasil tetesan keringat kita sendiri. Lain halnya dengan pencuri, pencuri juga punya ilmu, tetapi tidak digunakan dengan pemikiran yang solid, itupun ilmu yang tidak jelas dari mana timbulnya, ilmu pencuri tidak di ajarkan tapi mengajarkan. pencuri hanya bermodal ilmu kacang-kacangan yang hanya sekali panen, itupun tidak memuaskan, kita akan di cari kemanapun kita berlari.</p>
<p style="text-align:left">Dunia pencuri sangat beda dengan dunia kita yang pemikiran orang-orang di atas rata-rata. Alangkah indahnya bumi tempat kita berpijak di penuhi dengan orang-orang yang berilmu dan beriman. Orang yang beriman sudah pasti berilmu, orang berilmu belum tentu beriman. Dengan ilmu dan iman kita bisa mencari pekerjaan dengan mudah. Banyak kata-kata orang pada masa sekarang susah mencari pekerjaan, tapi itu semua hanyalah bagi mereka yang belum merasa nikmatnya membentengi diri dengan ilmu dan iman. Ilmu itu mulai terasa dikala kita sudah mencicipi nikmatnya dunia. Apalagi orang yang sudah masuk dunia rumah tangga, sangat berat beban yang kita hadapi, kita tidak bisa membina keluarga madani kalau hanya bermodal cinta. Ingat, ilmu yang bermahkotakan keimanan adalah kesejahteraan masa depan.</p>
<p style="text-align:left">Oleh karena itu, kita selaku manusia biasa yang nanti akan meninggalkan dunia yang fana ini harus mempunyai ilmu dan iman sebagai bekal di akhirat nanti. Cerah sekali hidup seseorang yang selalu ceria, orang ceria orang yang selalu memandang dunia dengan ilmu, apa yang dilihat, akan dijadikan sumber ilmu, orang berilmu tak gentar menjalani semua urusan dunia yang berliku-liku. Orang berilmu tahu aturan bagaimana menjalankan roda putaran zaman, mereka selalu menjadi yang terbaik dari hari yang lalu, mereka penuhi hari-hari dengan senyuman, bahkan hari-hari orang yang beriman dan berilmu yang selalu di penuhi dengan keceriaan dan kedamaian yang tiada tara.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left">
<p style="text-align:left">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pede.journalt.com/2007/11/07/ilmu-itu-modal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
